Penyuluh Kehutanan Harus Kreatif dalam Memilih Media Penyuluhan

Majalah penyuluhan sebagai salah satu media penyuluhan (sumber: Dinas Pertanian Mesuji)

Hai sobat penyuluh kehutanan dan pembaca semua, apa kabar? Kali ini saya hendak mengulas tentang media penyuluhan. Maksudnya, dalam melakukan kegiatan penyuluhan tentunya ada media atau sarana yang digunakan agar hal yang hendak kita sampaikan dapat diterima dengan efektif oleh sasaran penyuluhan.

Media penyuluhan khususnya penyuluhan kehutanan ada bermacam-macam seperti tertera di dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 4 Tahun 2022 tentang Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan. Media tersebut antara lain: media cetak seperti brosur, leaflet, poster, booklet, papan informasi. Media elektronik seperti naskah radio, televisi, video, website, infografis, blog.

Meskipun media yang dituliskan di dalam peraturan tersebut sudah ditentukan, namun tidak perlu menghalangi penyuluh kehutanan untuk mengembangkan kreativitas dalam menyampaikan sesuatu kepada sasaran penyuluhan. Penyuluh juga dapat menyampaikan materi penyuluhan dengan menulis cerita. 

Penulisan cerita dapat disesuaikan dengan usia sasaran penyuluhan. Jika sasarannya orang dewasa, tentunya penulisan cerita dapat menggunakan bahasa yang kompleks yang dapat dipahami oleh usia dewasa. Jika sasaran penyuluhan adalah anak-anak, lebih tepat jika ceritanya berupa cerita sederhana atau cerita anak yang akan lebih mengena.

Cerita anak penuh hikmah akan dibaca dengan senang hati oleh anak. Salah satu jenis cerita anak yang disukai anak-anak adalah dalam bentuk fabel atau cerita yang tokohnya binatang. Berikut saya contohkan cerita anak dengan tujuan penyuluhan kehutanan.

Moni Monyet Berjanji Tak Nakal Lagi

Moni adalah monyet yang nakal. Setiap hari ia pergi ke hutan membawa parang. Ia hendak mencari pisang. Jika sudah menemukan pisang, ia akan makan sampai kenyang.

Namun, ada yang salah. Setelah makan, Moni jadi terlalu bersemangat, dan menebang pohon pisang yang baru saja ia petik buahnya. Hal itu sudah beberapa kali ia lakukan. Akibatnya pohon pisang banyak yang tumbang, dan udara jadi panas.

Rupanya penghuni desa banyak yang tak suka dengan tingkah laku Moni, dan salah satunya melaporkan Moni kepada polisi hutan. Saat Moni tengah melaksanakan aksinya lagi, Bu Kuci Kucing dan Bu Pani Panda datang mendekatinya. Mereka berdua adalah polisi hutan. Melihat seragam hijau Bu Kuci dan Bu Pani, Moni jadi ketakutan. 

Bu Kuci marah melihat pohon pisang bertumbangan. Bu Pani yang lebih sabar segera menengahi dan menasihati Moni. Moni dibawa ke rumah Pak Kuri Kura. Pak Kuri adalah seorang penyuluh kehutanan.

Pak Kuri menjelaskan pada Moni, bahwa jika hutan gundul karena pohonnya banyak ditebang, maka nanti bisa menyebabkan terjadinya banjir. 

Bu Kuci menghukum Moni dengan menyuruh Moni bekerja membantu Pak Kuri di kebun Pak Kuri. Akhirnya Moni setiap hari bekerja menanam pohon pisang di kebun Pak Kuri. Moni juga berjanji tidak akan nakal lagi, karena ia takut terjadi banjir lalu ia hanyut entah kemana.

Jadi, jangan suka menebang pohon, ya, teman. Pohon itu disayang. Boleh diambil buahnya, tapi biarkanlah pohonnya tetap berdiri tegak, dan dedaunannya tetap menjuntai memberi kerindangan yang menyejukkan.

T a m a t

Nah, itu contoh sederhana dari cerita anak yang bermaksud memberikan pemahaman pada anak bahwa hutan harus tetap hijau, dan menggunduli hutan adalah perbuatan yang melanggar aturan kehutanan. Ada sanksi jika ada yang menebang pohon di hutan.

Sekian dulu ya materi penyuluhan kali ini. Sampai jumpa lagi di materi berikutnya.


Comments

  1. Replies
    1. Hooch, terinspirasi konten yang anak muda ninju-ninju pohon pisang sekitar setahun lalu, inget gag mbak?

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Penyuluh Kehutanan yang Pertama Kukenal

Penyuluh Kehutanan Tidak Harus Selalu di Hutan, Nongkrong Minum di Kopi Hub Juga Boleh