Penyuluh Kehutanan yang Pertama Kukenal



Penyuluh Kehutanan ada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Sumber: www.menlhk.go.id)


Pada tahun 1999, pertama kalinya saya bekerja menjadi seorang CPNS alias Calon Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi litbang di bawah Departemen Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Nama instansinya BTPDAS Ujung Pandang, atau Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ujung Pandang.

Tak lama setelah bekerja, yaitu pada Tahun 2000, saya mendapat tugas perjalanan dinas ke Kota Palopo, yang terletak sejauh kurang lebih 375 kilometer. Perjalanan dinas tersebut dalam rangka penelitian dengan topik tentang Hutan Cadangan Pangan. Saya ingat waktu itu saya menggantikan peran peneliti senior yang sedang hamil tua. 

Saya berangkat bersama pak kepala balai, Pak Rumpoko dan beberapa pegawai kantor serta seorang profesor dari UNHAS, Prof Sampe Paembonan yang berperan sebagai pakar kehutanan. Kami berangkat dengan kendaraan dinas kepala balai. Mulanya kami singgah dan bermalam di Toraja, di rumah Prof Sampe. Kemudian esok paginya baru ke lokasi hutan cadangan pangan di Palopo.

Yang dimaksud hutan cadangan pangan waktu itu adalah areal tanaman semusim yang ditanam di dalam hutan. Selain itu salah satu areal yang diteliti juga adalah hutan sagu. 

Sagu adalah bahan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi pengganti nasi yang sering diolah menjadi kapurung yang merupakan makanan tradisional orang Palopo. Waktu itu kapurung belum terlalu familiar di lidah saya, namun kalau sekarang menjadi salah satu makanan favorit saya di Makassar.

Kapurung (Sumber: Instagram @kapurung.mks)

Saya tak hendak bercerita tentang sagu atau tentang hutan cadangan pangan, namun saya akan mengenalkan sosok penyuluh kehutanan yang pertama saya kenal. Namanya, kalau tak salah ingat, adalah Pak Aras. Beliau seorang penyuluh yang saat itu bekerja di Dinas Kehutanan Palopo. Beliau mendampingi saat saya melaksanakan penelitian mengenai hutan cadangan pangan.

Karena waktunya sudah lama sekali, saya bahkan sudah lupa apakah saat mengambil data sosek saya menginap di rumahnya atau di hotel. Yang saya ingat dengan jelas adalah Pak Aras dan istrinya sangat baik. Saya dan Pak Yudi (peneliti senior yang bersama-sama ke lapangan) dijamu makan kapurung di rumah Pak Aras. 

Pak Aras mewakili ciri khas penyuluh kehutanan di daerah yang ramah dan senang bercerita. Karakternya membuat orang merasa nyaman bekerja karena beberapa hal teknis sudah ditangani oleh beliau. 

Pak Aras adalah penyuluh kehutanan yang pertama saya kenal. Kemungkinan beliau sudah pensiun sekarang. Beliau pasti tak menyangka, peneliti muda yang culun yang dulu ia dampingi, sekarang menjadi penyuluh kehutanan juga seperti dirinya. 

Hai, Pak Aras, di manapun sekarang engkau berada, terima kasih, karena telah meninggalkan kesan yang baik dari seorang penyuluh kehutanan. Mungkin karena kesan baik itu, saya tak ragu memilih menjadi penyuluh, setelah dua puluh tahun lebih menjadi seorang peneliti.

Perjalanan saya menjadi seorang PNS baik peneliti maupun penyuluh, akan saya tulis dalam blog ini. Semoga memberikan manfaat bagi mereka yang membacanya. Aamiin.*

Comments

Popular posts from this blog

Penyuluh Kehutanan Harus Kreatif dalam Memilih Media Penyuluhan

Penyuluh Kehutanan Tidak Harus Selalu di Hutan, Nongkrong Minum di Kopi Hub Juga Boleh